Blog Details

Mengenal TKDN dari Manfaat, Sertifikasi, dan Cara Mendapatkannya

Arah Baru SNI 2026: Fokus Hilirisasi & Digital yang Wajib Diketahui Pelaku Industri

Perubahan lanskap industri global menuntut Badan Standardisasi Nasional (BSN) untuk bergerak cepat dalam menyelaraskan standar nasional dengan kebutuhan pasar. Berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) BSN Tahun 2025-2029, arah kebijakan standarisasi tidak lagi hanya berfokus pada produk konvensional, tetapi meluas ke sektor strategis seperti ekonomi hijau, ekonomi biru, dan teknologi digital. 

"Kami berkomitmen untuk mendukung hilirisasi sumber daya alam demi meningkatkan nilai tambah di dalam negeri," ungkap Y. Kristianto Widiwardono, Plt. Kepala BSN

dalam dokumen Renstra terbaru. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku usaha harus segera beradaptasi. Transformasi ini tentunya menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi industri nasional untuk meningkatkan daya saing di pasar global.

Apa Saja Fokus Utama Revisi SNI di Tahun 2026?

Memasuki tahun 2026, BSN menargetkan penguatan infrastruktur mutu melalui revisi dan penetapan SNI baru yang lebih relevan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Berdasarkan data Renstra BSN, berikut adalah sektor-sektor yang menjadi prioritas utama:

  • Hilirisasi Sumber Daya Alam: Fokus pada standar produk turunan nikel, tembaga, bauksit, dan kelapa sawit untuk mendukung industri baterai kendaraan listrik (EV) dan energi terbarukan.

  • Ekonomi Digital: Pengembangan SNI terkait keamanan data, kecerdasan buatan (AI), dan tata kelola sistem informasi untuk melindungi konsumen di era digital.

  • Ekonomi Hijau: Penyelarasan standar dengan isu keberlanjutan, termasuk jejak karbon dan pengelolaan limbah industri yang lebih ketat.

  • Kesehatan dan Pangan: Revisi standar pada kemasan pangan dan alat kesehatan untuk menjamin keamanan konsumen secara menyeluruh.

Adakalanya, perubahan regulasi ini membingungkan bagi pelaku industri yang terbiasa dengan pola lama. Namun, langkah ini diambil agar produk Indonesia tidak kalah saing dengan produk impor yang membanjiri pasar.

Berikut adalah tabel proyeksi fokus pengembangan SNI berdasarkan Renstra 2025-2029:


Bagaimana Dampak Integrasi ISO 9001:2026 terhadap SNI?

Revisi standar internasional ISO 9001 yang dijadwalkan rilis pada 2026 akan memberikan dampak signifikan terhadap struktur SNI sistem manajemen mutu di Indonesia. Mengingat BSN sering mengadopsi standar ISO secara identik atau modifikasi, pelaku usaha di Indonesia perlu bersiap menghadapi integrasi teknologi canggih dalam manajemen mutu.

Perubahan ini tidak hanya menuntut kepatuhan dokumen, tetapi juga bukti nyata implementasi teknologi dalam proses kontrol kualitas. Beberapa poin krusial yang kemungkinan besar akan diadopsi ke dalam SNI ISO 9001 versi terbaru meliputi:

  • Otomatisasi Kontrol Kualitas: Pengurangan inspeksi manual dan beralih ke sensor berbasis IoT.

  • Keberlanjutan (Sustainability): Kewajiban memasukkan aspek lingkungan dalam sasaran mutu perusahaan.

  • Mitigasi Bias AI: Jika perusahaan menggunakan AI, harus ada tata kelola yang memastikan keputusan algoritma tidak bias dan transparan.

Produk Apa Saja yang Mengalami Pengetatan SNI di 2025-2026?

Selain perencanaan strategis jangka panjang, pemerintah juga telah menetapkan regulasi teknis yang mulai berlaku efektif pada 2025 dan akan diawasi ketat pada 2026. Dua regulasi utama yang wajib diperhatikan oleh vendor dan industri manufaktur adalah terkait kemasan pangan dan keselamatan korek api.

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian telah menerbitkan aturan wajib SNI yang tidak bisa ditawar lagi. Berikut rinciannya:

  1. Kertas dan Karton Kemasan Pangan Permenperin No. 6 Tahun 2025:

    • Wajib memenuhi SNI 8218:2024.

    • Berlaku efektif mulai 24 Juli 2025.

    • Menyasar produsen kemasan primer yang bersentuhan langsung dengan makanan (kertas glasin, karton dupleks, dll).

  2. Korek Api Permenperin No. 51 Tahun 2024:

    • Wajib memenuhi standar yang mengadopsi ISO 9994:2018.

    • Berlaku efektif mulai 15 April 2025.

    • Penyematan kode QR pada kemasan kini menjadi kewajiban untuk pelacakan produk.

Oleh karena itu, bagi importir maupun produsen lokal, masa transisi ini adalah momen krusial untuk segera mengurus sertifikasi guna menghindari penarikan produk dari pasar.

Mengapa Penerapan SNI Menjadi Kunci Keberlanjutan Bisnis?

Penerapan SNI sejatinya bukan sekadar kewajiban administratif semata, melainkan investasi strategis untuk keberlangsungan bisnis jangka panjang. Di tengah persaingan pasar bebas, tanda SNI menjadi jaminan mutu yang membangun kepercayaan konsumen secara instan. Terlebih lagi, dengan adanya Harmonisasi Standar yang digencarkan BSN dalam Renstra 2025-2029, produk ber-SNI akan lebih mudah menembus pasar ekspor karena standarnya telah diakui secara internasional.

Keuntungan strategis penerapan standar meliputi:

  • Akses Pasar Luas: Membuka peluang masuk ke pengadaan pemerintah (E-Katalog) yang mewajibkan SNI.

  • Efisiensi Operasional: Mengurangi tingkat produk cacat (reject) melalui sistem manajemen mutu yang terstandarisasi.

  • Perlindungan Hukum: Memberikan rasa aman bagi produsen dari tuntutan hukum terkait keamanan produk.

Sebaliknya, kelalaian dalam mematuhi regulasi SNI wajib dapat berakibat fatal, mulai dari sanksi administratif hingga pidana. Akhirnya, kesadaran akan pentingnya mutu harus dibangun dari sekarang, bukan saat sanksi sudah di depan mata.

Alatan Asasta Indonesia memahami bahwa transisi menuju kepatuhan standar baru seringkali rumit dan memakan waktu. Kami hadir untuk mempermudah proses tersebut melalui riset mendalam dan pendampingan profesional.

FAQ

SNI terbaru tahun berapa?

SNI terus diperbarui setiap tahun. Untuk tahun 2025-2026, pembaruan besar mencakup SNI 8218:2024 untuk kertas kemasan pangan dan adopsi ISO 9994:2018 untuk korek api, serta rencana revisi standar terkait hilirisasi dan digitalisasi.

SNI berlaku berapa tahun?

Masa berlaku sertifikat SPPT SNI umumnya adalah 3 (tiga) atau 4 (empat) tahun, tergantung pada skema sertifikasi yang diterapkan oleh Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro), dengan kewajiban surveilans tahunan.

Standar SNI apa saja?

SNI mencakup ribuan produk dan sistem, mulai dari SNI ISO 9001 (Sistem Manajemen Mutu), SNI 8218 (Kertas Kemasan), hingga SNI untuk barang elektronik, material konstruksi, dan produk pangan.

SNI itu apa?

SNI (Standar Nasional Indonesia) adalah satu-satunya standar yang berlaku secara nasional di Indonesia, ditetapkan oleh BSN untuk menjamin mutu, keselamatan, dan daya saing produk nasional.


0 Comments

Post Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *