Strategi Memulai Sertifikasi TKDN Meski Bahan Baku Masih Impor: Panduan Praktis untuk Industri Mesin Konstruksi
Hal ini mencerminkan realitas di lapangan bahwa bagi banyak industri, terutama manufaktur alat berat dan mesin, ketergantungan pada komponen impor adalah hal yang sulit dihindari, apalagi untuk produk kompleks. Namun, bukan berarti sertifikasi TKDN tak dapat dilakukan justru ada strategi praktis yang bisa digunakan.
Dalam penjelasan ini Harmada Sibuea sebagai CEO Alatan Indonesia yang sudah berpengalaman selama 20 tahun membimbing POLRI, memberikan solusi strategi bertahap yang bisa jadi inspirasi bagi pelaku usaha lain.
Daftar Isi
- Apa Itu TKDN dan Mengapa Penting?
- Tantangan Industri Mesin Konstruksi dalam Sertifikasi TKDN
- Solusi Strategi Bertahap Memulai TKDN
- Kenapa Target TKDN ±25% Sudah Strategis?
- Tips Praktis Bagi Pelaku Usaha
- Kesimpulan
Apa Itu TKDN dan Mengapa Penting?
TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) adalah persentase kandungan komponen lokal dalam suatu produk barang atau jasa. Semakin tinggi nilai TKDN berarti lebih besar kontribusi penggunaan bahan, tenaga kerja, atau proses produksi di dalam negeri.
Pemerintah menerapkan TKDN sebagai bagian dari kebijakan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) untuk mendorong kemandirian industri, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing produk Indonesia.
Dalam konteks pengadaan pemerintah:
- Produk dengan TKDN ≥ 25% berpeluang mendapatkan preferensi harga dibanding produk tanpa TKDN.
- Jika TKDN digabungkan dengan Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) dan totalnya mencapai 40%, produk tersebut memiliki prioritas utama dalam pengadaan.
Ini berarti walau TKDN belum tinggi, masih ada jalur strategis untuk masuk dalam mekanisme pengadaan.
Tantangan Industri Mesin Konstruksi dalam Sertifikasi TKDN
Pelaku industri sering menghadapi kendala seperti:
- Komponen utama masih impor, sehingga sulit memenuhi ambang TKDN tinggi secara langsung.
- Biaya sertifikasi dan verifikasi sering dianggap kompleks terutama bagi usaha kecil menengah.
- Pemahaman tentang komponen non-material, seperti tenaga kerja dan overhead yang bisa dihitung ke dalam nilai TKDN, masih belum optimal.
Dalam webinar, pelaku dari Padang menyatakan tidak tahu harus mulai dari mana karena bahan baku mesin masih diimpor.
Solusi Strategi Bertahap Memulai TKDN
1. Identifikasi Komponen yang Dapat Disubstitusi
Alihkan fokus dari komponen utama yang sulit diproduksi lokal, ke komponen pendukung kecil seperti:
- Sabuk transmisinya
- Saringan udara
- Aksesori non-strategis lainnya
Komponen tersebut relatif lebih mudah dipasok vendor lokal, sehingga mulai meningkatkan persentase lokal. Strategi ini bisa membawa nilai TKDN awal sekitar ±25% yang cukup untuk memenuhi kriteria preferensi awal dalam pengadaan pemerintah.
Menurut strategi dari Harmada Sibuea, pendekatan ini realistis ketika skala perusahaan belum memungkinkan untuk produksi komponen utama lokal.
2. Hitung Kontribusi Tenaga Kerja & Overhead Lokal
Selain bahan baku, nilai TKDN juga bisa diperoleh dari:
- Tenaga kerja lokal yang terlibat dalam proses produksi
- Biaya overhead lokal seperti fasilitas pabrik, logistik, dan layanan pendukung
Dengan memasukkan nilai kontribusi non-material ini, perusahaan bisa menaikkan persentase TKDN secara signifikan meskipun masih menggunakan komponen impor.
Kenapa Target TKDN ±25% Sudah Strategis?
Banyak pelaku usaha berpikir bahwa TKDN harus setinggi mungkin sejak awal, padahal:
- TKDN ≥ 25% sudah memberi akses ke preferensi harga dalam pengadaan pemerintah.
- Preferensi ini bisa membuat penawaran perusahaan menjadi lebih kompetitif dibanding produk tanpa sertifikat TKDN.
- Artinya, perusahaan tidak harus langsung memenuhi nilai TKDN tinggi cukup realistis di tahap awal, lalu terus meningkat di waktu mendatang.
Pendekatan ini juga selaras dengan tujuan TKDN yang adaptif untuk ekosistem industri yang sedang berkembang, bukan sebagai hambatan yang mengekang.
Tips Praktis Bagi Pelaku Usaha
- Pahami struktur biaya produksi secara detail agar komponen lokal bisa dihitung maksimal saat menghitung TKDN.
- Rangkul vendor lokal sedini mungkin, baik dari sisi material maupun sub-assembly.
- Gunakan fasilitas pemerintah seperti sosialisasi dan pendampingan sertifikasi TKDN dari Kemenperin bagi industri kecil.
- Berkolaborasi dengan konsultan TKDN untuk menyusun dokumen sertifikasi secara benar.
Penutup
Memulai sertifikasi TKDN bukan hal yang mustahil meskipun produk Anda masih bergantung pada bahan baku impor. Dengan strategi yang bertahap dan realistis misalnya memaksimalkan komponen lokal kecil dan tenaga kerja Indonesia perusahaan bisa mencapai nilai TKDN awal ±25%, yang secara langsung memberi keuntungan kompetitif dalam pengadaan pemerintah.
Pendekatan ini bukan sekadar teoritis, namun berdasarkan pengalaman praktis pelaku usaha serta didukung oleh kebijakan resmi pemerintah yang memberi ruang bagi pelaku industri untuk berkembang secara bertahap.
0 Comments